Tampilkan postingan dengan label Penjas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penjas. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Desember 2013

Peregangan Otot dan Pelemasan Sendi

Pada saat akan memulai suatu aktifitas olahraga, stretching (peregangan) atau lebih dikenal orang dengan istilah pemanasan (warm-up) ini sangat diperlukan. Stretching adalah bentuk dari penguluran atau peregangan pada otot-otot di setiap anggota badan agar dalam setiap melakukan olahraga terdapat kesiapan serta untuk mengurangi dampak cedera yang sangant rentan terjadi. Peregangan merupakan salah satu bentuk persiapan awal dalam melakukan aktivitas olahraga, termasuk olahraga beladiri. Pada perguruan beladiri modern biasanya dalam latihan sudah dimasukkan unsur ilmu kesehatan dan olahraga, di antaranya teknik peregangan. Teknik peregangan perlu dikuasai oleh para pelatih dan atlet karena manfaatnya sangat besar, namun tentu saja setiap cabang olahraga di samping memiliki teknik peregangan yang bersifat umum juga memiliki teknik peregangan yang lebih spesifik.

Sebelum melakukan peregangan sebaiknya terlebih dahulu melakukan pemanasan (warm-up), walaupun ada pendapat lain yang menyatakan bahwa pemanasan sebaiknya dilakukan setelah melakukan peregangan. Pemanasan merupakan salah satu bagian dasar dari program latihan permulaan yang terdiri dari sekelompok latihan yang dilakukan pada saat hendak melakukan aktivitas olahraga. Peregangan otot dan pelemasan sendi penting dilakukan sebelum melakukan latihan yang sesungguhnya. Hal ini dilakukan untuk mencapai hal-hal sebagai berikut.
  • Mengurangi kemungkinan terjadi cedera sendi dan otot.
  • Menghemat tenaga yang dikeluarkan ketika melakukan gerakan.
  • Mempersiapkan anggota badan untuk melakukan gerakan dalam latihan yang lebih berat.
  • Untuk melemaskan persendian agar mudah melakukan gerakan dan tidak kaku.
Peregangan otot dan pelemasan sendi di antaranya:
1. Peregangan Otot Tangan
Cara melakukan peregangan otot adalah sebagai berikut.
  • Berdiri tegak.
  • Tangan dibengkokkan di depan dada.
  • Tangan kanan memegang siku tangan kiri.
  • Tarik siku tangan kiri ke arah kanan dan tahan sebentar.
  • Kembali ke sikap semula.
  • Gantian dengan tangan kanan.
  • Dibengkokkan di depan dada.
  • Tangan kiri memegang siku tangan kanan.
  • Tarik siku tangan kanan ke arah kiri dan tahan sebentar.
  • Kembali ke sikap semula.
  • Dilakukan secara bergantian antara tangan kiri dan tangan kanan.
2. Peregangan Otot Leher
Cara melakukan peregangan otot leher adalah sebagai berikut.
  • Berdiri tegak, kedua kaki dibuka selebar bahu.
  • Kedua tangan di pinggang.
  • Putar leher ke kiri dua kali, ke kanan dua kali, dilakukan 2 × 8 hitungan.
  • Anggukan kepala ke bawah dua kali, ke atas dua kali, dilakukan 2 × 8 hitungan.
  • Miringkan kepala ke kiri dua kali dan ke kanan dua kali, dilakukan 2 × 8 hitungan.
3. Peregangan Otot Pinggul
Cara melakukan peregangan otot pinggul adalah sebagai berikut.
  • Berdiri tegak, kedua kaki dibuka selebar bahu.
  • Kedua tangan di samping badan.
  • Renggutkan badan ke bawah sampai, kedua tangan menyentuh lantai.
  • Kembali ke sikap semula.
  • Renggutkan badan ke belakang dengan kedua tangan memegang pinggul.
  • Lakukan secara bergantian.
4. Peregangan Otot Kaki
Cara melakukan peregangan otot kaki adalah sebagai berikut.
  • Berdiri tegak, kedua kaki dibuka selebar bahu.
  • Angkat kaki kanan dengan kedua tangan memegang lutut.
  • Tahan sebentar, kembali ke sikap semula.
  • Angkat kaki kiri dengan kedua tangan memegang lutut.
  • Tahan sebentar, kembali ke sikap semula.
  • Lakukan secara bergantian.
5. Pelemasan Sendi Lutut
Cara melakukan pelemasan sendi lutut adalah sebagai berikut.
  • Berdiri tegak kedua kaki rapat.
  • Kedua lutut dibengkokkan.
  • Kedua tangan memegang lutut.
  • Putar kedua lutut ke kanan dua kali dan ke kiri dua kali.
  • Dilakukan dalam 2 × 8 hitungan.
6. Pelemasan Sendi Bahu
Cara melakukan pelemasan sendi bahu adalah sebagai berikut.
  • Berdiri tegak kedua kaki rapat.
  • Kedua tangan direntangkan ke samping.
  • Putar kedua tangan dari mulai putaran lambat kemudian cepat.
  • Putar dari putaran kecil kemudian ke putaran besar.
  • Lakukan secara berulang-ulang.
7. Pelemasan Sendi Kaki
Cara melakukan pelemasan sendi kaki adalah sebagai berikut.
  • Berdiri tegak, kedua kaki rapat.
  • Kedua tangan di pinggang.
  • Angkat kaki kanan ke depan.
  • Putar ujung kaki ke kanan dan ke kiri.
  • Kembali ke sikap semula.
  • Angkat kaki kiri ke depan.
  • Putar ujung kaki ke kanan dan ke kiri.
  • Kembali ke sikap semula.
  • Lakukan secara bergantian antara kaki kanan dan kaki kiri.

Nama Induk Organisasi Olah Raga

Nama Induk Organisasi Olah Raga. Organisasi olahraga merupakan wadah bagi anggota masyarakat yang berminat pada cabang olahraga tertentu. Di samping itu kelompok orang yang berprofesi tertentu yang selalu terlibat dengan kegiatan olahraga, membentuk suatu organisasi fungsional. Kegiatan sejenis seperti cabang-cabang olahraga dan badan fungsional mewadahi diri dalam organisasi seperti Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Cabang olahraga yang "berinduk" pada KONI umumnya bertujuan guna meningkatkan prestasinya dengan demikian akan dapat menjunjung tinggi nama dan martabat bangsa Indonesia dan dapat mempererat persahabatan dengan bangsa-bangsa lainnya. 

Setiap cabang olahraga mempunyai Induk Organisasi, baik tingkat Nasional atau sering di
sebut Top Organisasi Olahraga di Indonesia maupun Induk Organisasi tingkat Internasional. Induk Organisasi ini merupakan Kepengurusan tiap-tiap cabang pada tingkat Nasional, yang membawahi dan membina olahraga olahraga di daerah. Induk organisasi cabang olahraga bertanggung jawab terhadap pelaksanaan penyelenggaraan kejuaraan olahraga baik di daerah maupun  di tingkat nasional. Induk organisasi cabang olahraga juga bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan kejuaraan olahraga tingkat internasional.

Induk organisasi olahraga yang ada di Indonesia, meliputi cabang olahraga permainan, bela diri, atletik, dan cabang olahraga lainnya. Berikut ini merupakan induk organisasi cabang olahraga di Indonesia:
A. Induk Organisasi Nasional
OrganisasiSingkatanOrganisasiSingkatan
FASI
Federasi Aero Sport Indonesia
BAPOR KORPRI
Badan Pembina Olahraga Korps Pegawai Republik Indonesia
IKASI
Ikatan Anggar Seluruh Indonesia
BAPOMI
Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia
PASI
Persatuan Atletik Seluruh Indonesia
BAPOPSI
Badan Pembina Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia
PERBASASI
Perserikatan Bisbol dan Sofbol Amatir Seluruh Indonesia
ISSI.
Ikatan Sport Sepeda Indonesia
PORDASI
Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia
PERWOSI
Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia
PORLASI
Persatuan Olahraga Layar Seluruh Indonesia
PERPANI
Persatuan Panahan Indonesia
POBSI 
Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia
FPTI
Federasi Panjat Tebing Indonesia
PABBSI
Persatuan Angkat Berat dan Binaraga Seluruh Indonesia
IPSI
Ikatan Pencak Silat Indonesia
PERBASI
Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia
POSSI
Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia
PBVSI
Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia
PERSANI
Persatuan Senam Indonesia
PBI 
Persatuan Boling Indonesia
PSTI
Persatuan Sepak Takraw Seluruh Indonesia
PBSI 
Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia
PSSI
Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia
PERCASI
Persatuan Catur Seluruh Indonesia
PERSEROSI
Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia
PODSI
Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia
PSASI
Persatuan Ski Air Seluruh Indonesia
PDBI
Persatuan Drum Band Indonesia
IODI
Ikatan Olahraga Dansa Indonesia
PGI
Persatuan Golf Indonesia
PSI
Persatuan Squash Indonesia
PGSI
Persatuan Gulat Amatir Seluruh Indonesia
TI
Taekwondo Indonesia
PJSI 
Persatuan Judo Seluruh Indonesia
KODRAT
Keluarga Olahraga Tarung Derajat
FORKI
Federasi Olahraga Karate-do Indonesia
PELTI 
Persatuan Tennis Lapangan Seluruh Indonesia
GABSI
Gabungan Bridge Seluruh Indonesia
PTMSI
Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia
PERKEMI
Persaudaraan Bela Diri Kempo Indonesia
PERTINA
Persatuan Tinju Amatir Indonesia
KORI
Kesehatan Olahraga Republik Indonesia
SIWO PWI
Seksi Wartawan Olahraga Persatuan Wartawan Indonesia
PLBSI
Persatuan Liong & Barongsai Seluruh Indonesia
WI
Wushu Indonesia
PERBAKIN
Persatuan Menembak dan BerburuIndonesia
PHSI
Persatuan Hockey Seluruh Indonesia 
IMI
Ikatan Motor Indonesia
PORTELASI
Persatuan Olahraga Terbang Layang Seluruh Indonesia
PRSI
Persatuan Renang Seluruh Indonesia
LSI
Liga Sofbol Indonesia
BPOC
Badan Pembina Olahraga Cacat
-
-

B.   Nama Induk Organiasi Internasional
  1. FIA: Fédération Internationale de l'Automobile (Otomotif)
  2. FIBA: Federation International de Basketball Amateur (Basket)
  3. FIFA : Federation of International Football Association(Sepak bola)
  4. FINA: Fédération Internationale de Natation (Federasi Renang Internasional)
  5. FIG: Federation International de Gymnastique (Senam)
  6. IAAF: International Amateur Athletic Federation (Atletik)
  7. IABA: International Amateur Boxing Association (Tinju Amatir
  8. IBF: International Badminton Federation (Bulutangkis)
  9. IBF: International Boxing Federation (Tinju Profesional)
  10. ITF: International Tennis Federation (Tenis )
  11. ILTA: International Lawn Tennis Association (Tenis Lapangan)
  12. ISF: International Softball Federation (Softball)
  13. ITTA: International Table Tenis Association (Tenis Meja)
  14. ITTF: International Table Tennis Association (Tenis Meja)
  15. IVBF: International de Volley Ball Federation (Voli)
  16. IYRU: International Yacht Racing Union (Yacht)
  17. OPBF:Orient Pasific Boxing Federation (Tinju)
  18. WBA : World Boxing Association (Tinju)
  19. WBC   : World Boxing Commission  (Tinju)
  20. WBF   : World Boxing Federation (Tinju)
  21. WBO : World Boxing Organization (Tinju)

Minggu, 01 Desember 2013

Penjelajahan dan Berkemah

Penjelajahan (hiking) adalah suatu kegiatan di alam bebas dengan berjalan kaki diikuti dengan berbagai permainan atau petualangan. Banyak sekali manfaat yang dapat diperolah dari kegiatan ini. Kemandirian, saling pengertian, kerjasama, kedisiplinan, dan tanggung jawab merupakan aspek pendidikan yang diharapkan timbul dari kegiatan tersebut. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk menunjang kenyamanan dan keselamatan sebelum melakukan penjelajahan di alam bebas. Oleh karena itu, pengenalan dan pemahaman teknik dalam melakukan perjalanan sangatlah penting. Kegiatan penjelajahan bertujuan untuk melatih mental, fisik, keterampilan, dan mengembangkan daya kreativitas. Berikut yang harus diperhatikan dalam penjelajahan. 

1. Perencanaan Penjelajahan
Perencanaan merupakan langkah awal melakukan kegiatan. Perencanaan suatu kegiatan
merupakan hal yang penting. Hal ini dilakukan agar dalam pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik dan lancar. Oleh karena itu, perlu diperhatikan dalam perencanaan penjelajahan, antara lain:
  1. Waktu pelaksanaan disesuaikan dengan kondisi cuaca.
  2. Mengidentifikasi lokasi yang akan dilakukan untuk penjelajahan.
  3. Menyusun acara pelaksanaan kegiatan.
  4. Menyusun jadwal kegiatan.
Acuan yang menjadi titik pokok dalam perencanaan adalah mengorganisasi aktivitas yang akan dilakukan. Hal ini untuk mengurangi kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.

2. Persiapan Penjelajahan
  • Membentuk panitia dan kelengkapannya.
  • Menjajaki pendahuluan objek yang akan dituju.
  • Mengirim surat izin kepada pihak yang berwenang.
  • Menentukan perlengkapan perorangan dan kelompok.
Perlengkapan perorangan, antara lain:
  • Sepatu dan kaos kaki.
  • Pakaian.
  • Ransel.
  • Air minum dan makanan.
  • Obat-obatan ringan.
Perlengkapan kelompok, antara lain:
  • Kompas, merupakan alat yang digunakan untuk mengetahui arah mata angin.
  • PPPK, merupakan obat-obatan yang digunakan untuk pertolongan pertama ketika terjadi kecelakaan.
  • Peta perjalanan, merupakan denah yang menunjukkan arah perjalanan yang akan dituju.
  • Tenda.
  • Tambang.
3. Pelaksanaan Penjelajahan
Kegiatan penjelajahan dilaksanakan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Semua peserta penjelajahan berkumpul sesuai kelompoknya. Ketua kelompok memberi pengarahan kepada anggotanya. Kepala sekolah atau yang mewakilinya melepas keberangkatan para peserta penjelajahan. Selama dalam perjalanan penjelajahan, keselamatan diri dan kelompok menjadi
perhatian utama. Oleh karena itu, perlu diperhatikan hal-hal berikut ini.
  • Setiap peserta mematuhi aturan dan petunjuk yang telah ditetapkan. 
  • Kekompakan dan kerja sama kelompok harus tetap terjaga.
  • Sopan santun harus selalu dijaga.
  • Menjaga keselamatan diri dan kelompok.
  • Tidak merusak lingkungan yang dilewati.
Kegiatan di alam bebas mempunyai risiko. Risiko tersebut, antara lain kram, kaki lecet, terjatuh, dan kecelakaan yang lain. Hal tersebut hendaknya sudah diantisipasi oleh peserta dan kelompoknya. Peserta telah siap menghadapi masalah dalam perjalanan penjelajahan.

4. Evaluasi Penjelajahan
Dalam setiap kegiatan, perlu diadakan evaluasi. Evaluasi diadakan untuk mengetahui hal-hal berikut.
  • Menilai sampai sejauh mana rencana yang diprogramkan dapat berjalan.
  • Mengidentifikasi persoalan-persoalan yang muncul dalam penjelajahan.
  • Memberikan catatan agar dalam penjelajahan yang akan datang permasalahan yang muncul dapat diantisipasi.
  • Menilai kerja panitia sampai sejauh mana kekompakan, koordinasi, dan kerja sama timnya
Berkemah
Berkemah atau kamping adalah kegiatan yang dilakukan di alam bebas terbuka dengan menginap di dalam tenda. Kegiatan perkemahan biasanya berkaitan dengan kepramukaan dan pencinta alam. Berkemah bukan sekadar berwisata. Pemandangan alam yang indah dan asri mengajak kita mengenal alam ciptaan Tuhan. Ingat apa kata pepatah ”tak kenal maka tak sayang”. Berkemah akan bertambah rasa cinta pada alam. Dengan demikian, tumbuh keinginan untuk menjaga dan melestarikan alam.
1. Merencanakan Kemah Secara Matang
Perencanaan dalam kegiatan perkemahan mencakup hal-hal berikut ini.
  • Waktu pelaksanaan.
  • Menentukan tempat perkemahan.
  • Biaya yang diperlukan.
  • Jumlah peserta kemah.
  • Surat izin kegiatan dari pihak yang berwenang.
  • Pembagian regu.
  • Perlengkapan yang diperlukan.
2. Alat dan Perlengkapan Kemah
Alat dan perlengkapan kemah yang diperlukan, antara lain:
  • Tenda.
  • Tali atau tambang.
  • Tongkat atau tiang penyangga.
  • Pasak.
  • Cangkul dan sabit.
  • Senter dan lampu.
  • Tikar.
  • Peralatan memasak.
  • Peralatan makan dan minum.
  • Peralatan mandi.
  • Alat dan perlengkapan lain yang diperlukan
Agar bawaan tidak terlalu berat, semua perlengkapan harus ditanggung bersama teman satu kelompok. Ada pembagian tugas yang jelas dan adil terhadap semua anggota kelompok. Hal ini dilakukan supaya tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

3. Memilih Lokasi Perkemahan
Dalam memilih lokasi perkemahan, hendaknya tempat yang aman dan dekat dengan sumber air bersih. Di samping itu, mudah mendapatkan kebutuhan pokok sehari-hari. Jika memilih tempat di bumi perkemahan, fasilitas pendukungnya sudah disediakan. Kita tinggal memilih tempat untuk mendirikan tenda.
4. Cara Mendirikan Tenda
Pada saat kita akan mendirikan tenda perlu perhatikan hal-hal berikut.
  • Tempat dipilih yang datar.
  • Pasang kedua tiang penyangga.
  • Ikat setiap tiang dengan tali ke kiri dan ke kanan.
  • Gunakan pasak untuk mengikatkan tali.
  • Hubungkan tiang pertama dan kedua dengan tali.
  • Pasang tenda dengan setiap ujung tenda, ditarik dengan tali sampai kencang dan dihubungkan dengan pasak.
  • Buat parit di sekeliling tenda untuk aliran air.
  • Pasang pagar di sekeliling tenda.
5. Kegiatan di Perkemahan
Kegiatan di perkemahan dilakukan untuk dapat mengenal lingkungan alam secara lebih dekat dan lebih baik. Di samping itu, juga untuk menciptakan suasana kekeluargaan dan keakraban di antara para peserta kemah. Kegiatan yang dilakukan untuk menguji wawasan, pengetahuan, maupun keterampilan para peserta kemah. Dengan demikian dapat mengembangkan kecakapan hidup (life skill) peserta kemah. Kegiatan yang dilakukan di arena perkemahan bermacam-macam. Kegiatan tersebut, antara lain:
  • Mencari jejak.
  • Halang rintang.
  • Lomba memasak antar tenda/regu.
  • Kegiatan olahraga.
  • Api unggun.
6. Nilai-nilai yang Terkandung dalam Perkemahan
Kegiatan perkemahan memiliki nilai-nilai positif bagi kita. Nilai-nilai positif tersebut adalah sebagai berikut.
  • Kebersamaan.
  • Kerja sama.
  • Mencintai alam dan sesama manusia.
  • Tanggung jawab.
  • Disiplin.
  • Tenggang rasa.
  • Kemandirian.

Tes Antropometri

Tes Antropometri ialah tes untuk mengetahui komposisi tubuh maupun bentuknya atau pengukuran atas struktur tubuh manusia. Tujuan akhir dari pengukuran antropometri adalah menetapkan bentuk atau tipe badan seseorang. Tipe badan bagi seseorang sebelum ia bekerja adalah penting, karena dengan tipe badan yang ideal untuk  jenis pekerjaan tertentu dapat meningkatkan capaian keberhasilan kerjannya. Dengan tes antropometri akan dapat mengetahui pertumbuhan badan seseorang normal atau tidak, kekurangan-kekurangan serta upaya pertumbuhan badan secara ideal. Tes ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui keadaan tubuh yang serasi (ideal). Tes ini meliputi:
1. Pengukuran Tinggi Badan (TB)
2. Pengukuran Berat Badan (BB)
3. Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LLA)

Berat Badan (BB)
Berat badan (BB) adalah parameter pertumbuhan yang paling sederhana,mudah diukur,dan diulang. BB merupakan ukuran yang terpenting yang dipakai pada setiap pemeriksaan penilaian pertumbuhan fisik anak pada semua kelompok umur karena BB merupakan indikator yang tepat untuk mengetahui keadaan gizi dan tumbuh kembang anak saat pemeriksaan (akut). Alasannya adalah BB sangat sensitif terhadap perubahan sedikit saja seperti sakit dan pola makan. Selain itu dari sisi pelaksanaan, pengukuran obyektif dan dapat diulangi dengan timbangan apa saja, relatif murah dan mudah, serta tidak memerlukan waktu lama.

Namun, pengukuran BB tidak sensitif terhadap proporsi tubuh misalnya pendek gemuk atau tinggi kurus. Selain itu, beberapa kondisi penyakit dapat mempengaruhi pengukuran BB seperti adanya bengkak (udem), pembesaran organ (organomegali), hidrosefalus, dan sebagainya. Dalam keadaan tersebut, maka ukuran BB tidak dapat digunakan untuk menilai status nutrisi.

Penilaian status nutrisi yang akurat juga memerlukan data tambahan berupa umur yang tepat,jenis kelamin, dan acuan standar. Data tersebut bersama dengan pengukuran BB dipetakan pada kurve standar BB/U dan BB/TB atau diukur persentasenya terhadap standar yang diacu.
BB/U dibandingan dengan standar, dinyatakan dalam persentase
  • >120% disebut gizi lebih 
  • 80-120% disebut gizi baik
  • 60-80% tanpa edema = gizi kurang
  • Dengan edema = gizi buruk
  • <60% disebut gizi buruk
Perubahan BB perlu mendapat perhatian karena merupakan petunjuk adanya masalah nutrisi akut. Kehilangan BB dapat dikategorikan menjadi: 1. Ringan = kehilangan 5-15%, 2. Sedang = kehilangan 16-25%, Berat = kehilangan >25%

Tinggi Badan (TB)
Tinggi badan (TB) merupakan ukuran antropometrik kedua yang terpenting. Pengukuran TB sederhana dan mudah dilakukan. Apalabila dikaitkan dengan hasil pengukuran BB akan memberikan informasi penting tentang status nutrisi dan pertumbuhan fisik anak Ukuran tinggi badan pada masa pertumbuhan dapat terus meningkat sampai tinggi maksimal dicapai. TB merupakan indikator yang menggambarkan proses pertumbuhan yang berlangsung dalam kurun waktu relatif lama (kronis), dan berguna untuk mendeteksi gangguan pertumbuhan fisik di masa lampau. Indikator ini keuntungannya adalah pengukurannya obyektif, dapat diulang, alat dapat dibuat sendiri, murah dan mudah dibawa.

Kerugiannya perubahan tinggi badan relatif lambat dan sukar untuk mengukur tinggi badan secara tepat. Pengukuran TB pada anak umur kurang dari 2 tahun dengan posisi tidur dan pada anak umur lebih dari 2 tahun dengan berdiri. Seperti pada BB, pengukuran TB juga memerlukan informasi seperti umur yang tepat, jenis kelamin dan standar baku yang diacu. TB kemudian dipetakan pada kurve TB atau dihitung terhadap standar baku dan dinyatakan dalam persen. TB/U dibandingkan dengan standar baku (%)
  • 90-110% = baik/normal
  • 70-89% = tinggi kurang
  • <70% = tinggi sangat kurang
Rasio BB menurut TB (BB/TB)
Rasio BB/TB jika dikombinasikan dengan BB/U dan TB/U sangat penting dan lebih akurat dalam penilaian status nutrisi karena memberikan informasi mengenai proporsi tubuh. Indeks ini digunakan pada anak perempuan hanya sampai tinggi badan 138 cm dan pada anak lelaki sampai tinggi badan 145 cm. Setelah itu, hasil perbandingan BB/TB menjadi tidak bermakna, karena adanya tahap percepatan pertumbuhan (growth spurt) pada masa pubertas. Keunggulan parameter ini adalah jika informasi mengenai umur tidak diketahui dengan pasti. Interpretasi BB/TB (dalam %)
  • > 120 % : obesitas
  • 110-120 % : overweight
  • 90-110 % : normal
  • 70-90% : gizi kurang
  • <70% : gizi baik
Lingkar Lengan Atas (LLA)
Lingkar lengan atas (LLA) menggambarkan tumbuh kembang jaringan lemak di bawah kulit dan otot yang tidak banyak terpengaruh oleh keadaan cairan tubuh dibandingkan dengan berat badan (BB). LLA lebih sesuai untuk dipakai menilai keadaan gizi/tumbuh kembang pada anak kelompok umur prasekolah (1-5 tahun).

Pengukuran LLA ini mudah, murah, alat bisa dibuat sendiri dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Alat yang digunakan biasanya adalah pita ukur elastis. Namun, penggunaan LLA ini lebih tepat untuk mengidentifikasi anak dengan gangguan gizi/pertumbuhan fisik yang berat. Selain itu terkadang pengukurannya juga dengan menekan pertengahan LLA yang dirasakan tidak nyaman bagi anak-anak. Interpretasi hasil dapat berupa:
  1. LLA (cm): < 12.5 cm = gizi buruk (merah), 12.5 – 13.5 cm = gizi kurang (kuning), >13.5 cm = gizi baik (hijau).
  2. Bila umur tidak diketahui, status gizi dinilai dengan indeks LLA/TB: <75% = gizi buruk, 75-80% = gizi kurang, 80-85% = borderline , dan >85% = gizi baik (normal).
Indeks Massa Tubuh ( IMT )
Indeks Massa Tubuh ( IMT ) adalah berat badan kilogram dibagi tinggi badan kuadrat
dalam meter. Indeks massa tubuh merupakan cara untuk menggambarkan berat badan dalam hubungannya dengan tinggi badan. Prosedur pelaksanaan tes sebagai berikut :
  • Berdiri tegak lurus 
  • Pandangan lurus kedepan
  • Saat pengukuran berat badan, atlet atau orang coba menggunakan pakaian seminim mungkin. Tinggi badan satuan alatnya adalah cm, berat badan satuan alatnya adalah kilogram (Kg)
  • Alat yang digunakan, antropometer, meteran yang sudah ditera dan timbangan yang sudah ditera.
Indeks massa tubuh dapat digunakan untuk mengetahui berat badan ideal. untuk mengetahui indeks massa tubuh dapat digunakan rumus berikut.
Indeks massa tubuh (IMT) =berat (kg)
tinggi2 (m)
Misalnya seorang anak laki-laki memiliki tinggi 1,64 m dan berat 55 kg, maka IMT anak tersebut adalah:
IMT =55= 20,4 atau dibulatkan menjadi 20
1,64 2 
Untuk menafsirkan hasil perhitungan, katagori indeks massa tubuh dan kaitannya dengan risiko kesehatan disajikan pada tabel berikut ini.
IMT
Resiko Kesehatan
19–24
minimal
25–26
rendah
27–29
sedang
30–34
tinggi
35–39
sangat tinggi
di atas 40
luar biasa tinggi
Indeks massa tubuh digunakan untuk memprediksi status gizi anak usia sekolah yaitu keadaan obesitas. Ada beberapa rumus yang dipergunakan dalam pengukuran antropometri untuk mengetahui berat ideal serta batas dari kewajaran berat seseorang. Dalam pengukuran berat badan ideal di kalangan medis dan olahraga menggunakan rumus yaitu :
Standar berat badan ideal ( Brocce Formula )
Berat Badan ideal = 90 % x ( Tinggi Badan – 100 ) atau  ( Tinggi Badan – 100 ) - 10%
Batas Kewajaran
1) Berat Badan Max  = 120 % x ( Tinggi Badan – 100 ) 2) Berat Badan Min = 80 % x ( Tinggi Badan – 100 )

Contoh :
Adi seorang siswa yang memiliki berat badan 30 kg dengan tinggi badan 132 cm. Berapakah berat badan ideal, maksimum dan minimal Adi ?
Jawab :
Dari data tes yang telah terkumpul diketahui Adi memiliki berat badan = 30 Kg dengan Tinggi badan = 132 cm.
Maka :
BB Ideal = 90% x (TB -100 )
               = 90% x ( 132 – 100 )
               = 90/100 x 32 = 28, 8 kg
Berat badan max = 120 % x (TB – 100 )
               = 120%x (132-100 )
               = 120/100 x 32 = 38,4 kg
Berat badan min = 80 % x (TB – 100 )
               = 80% x ( 132 – 100 )
               = 80/100 x 32 = 25,6 kg
Kategori : 
Kurus BBI > BB sebenarnya (-5 kg)
Gemuk BBI < BB sebenarnya (+5 kg)
Ideal BBI = BB sebenarnya

Sabtu, 30 November 2013

Lari Sambung

Lari Sambung (estafet). Lari sambung adalah lari yang dilakukan oleh beberapa orang pelari
(biasanya 4 orang) secara sambung-menyambung. Lari sambung atau lari estafet termasuk dalam nomor lari jarak pendek. Lari ini dilakukan secara  bersambung dan bergantian oleh empat pelari dengan membawa tongkat dari garis start sampai garis finish. Pelaksanaan lari sambung dapat berjalan dengan baik apabila pergantian tongkat berjalan lancar. Lari estafet yang sering dilombakan adalah 4 x 100 m dan 4 x 400 m.

1. Susunan Pelari Sambung
Lari sambung dilakukan secara beregu. Tiap regu terdiri dari 4 orang. Masing-masing orang
mempunyai peranan yang berbeda dalam lari sambung.
  • Pelari I : melakukan lari dengan start jongkok dan membawa tongkat.
  • Pelari II : menerima tongkat dari pelari pertama, pelaksanaan lari dengan start melayang.
  • Pelari III : menerima tongkat dari pelari kedua, pelaksanaan lari dengan start melayang.
  • Pelari IV : menerima tongkat dari pelari ketiga, pelaksanaan lari dengan start melayang dan memasuki garis finish.
2. Cara Memegang Tongkat
Cara memegang tongkat harus dilakukan dengan benar oleh pemberi dan penerima tongkat. Apabilacara memegang tongkat salah, maka dalam penerimaan tongkat tidak dapat berjalan dengan baik. Dalam memegang tongkat, bagi pelari pemberi tongkat harus dipegang bagian ujung tongkat. Sedangkan bagian ujung tongkat yang lainnya akan pelari penerima. Teknik ini harus diperhatikan dengan saksama oleh pelari sambung supaya dapat menghasilkan lari sambung yang sempurna.

3. Cara Pergantian Tongkat
Tempat pergantian tongkat dalam lari estafet juga disebut wessel zone. Panjang tempat pergantian tongkat dilakukan dalam jarak 20 m. Sedang pergantian tongkat dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara melihat (visual) dan cara tidak melihat (nonvisual).
a. Pergantian tongkat dengan cara melihat (visual)
Cara ini dilakukan oleh pelari penerima pada saat menerima tongkat dengan cara melihat ke belakang (menengok pada pemberi tongkat).
b. Pergantian tongkat dengan cara tidak melihat (nonvisual)
Cara ini dilakukan oleh pelari penerima pada saat menerima tongkat dengan cara tidak melihat ke belakang (pandangan ke depan) dan tangan penerima dijulurkan ke belakang. Penerima tongkat dapat menerima tongkat setelah menerima tanda atau aba-aba dari pemberi tongkat.

4. Teknik Lari Sambung
Anak berpasangan muka belakang dengan jarak secukupnya. Anak pada bagian belakang berfungsi sebagai pemberi tongkat. Adapun anak yang berada di depan sebagai penerima tongkat.
a. Latihan di tempat
Pemberi tongkat memegang ujung tongkat dengan tangan kiri, penerima siap menerima tongkat dengan tangan kanan. Kedua pelari melakukan gerakan lari di tempat. Apabila ada aba-aba peluit, kedua pelari saling memberi dan menerima tongkat. Latihan ini diulang-ulang dan dapat dilakukan dengan cara visual dan nonvisual.
b. Latihan dengan lari kecil
Pelari pemberi dan penerima melakukan lari kecil ke depan bersama-sama. Jarak muka belakang secukupnya agar penerimaan tongkat dapat berjalan dengan baik. Apabila ada aba-aba peluit, tongkat diberikan kepada pelaripenerima tongkat.
c. Latihan dengan lari
Pelari penerima dan pemberi berdiri dengan jarak 10 m. Pelari pemberi lari cepat untuk memberikan tongkatnya. Sebelum sampai, pelari penerima segera lari dan mengulurkan tangannya sambil menoleh ke belakang untuk menerima tongkat dari pelari pemberi. Setelah diterima segera lari cepat sampai finish.