Sabtu, 01 Juni 2013

Perkembangan Peserta Didik

Perkembangan Peserta Didik. Perkembangan adalah perubahan yang progresif dan kontinyu (berkesinambungan)  dalam diri individu mulai lahir sampai mati. Pengertian lainnya yaitu : Perubahan – perubahan yang dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya yang  berlangsung secara sistematis, progesif, dan berkesinambungan baik menyangkut fisik  maupun psikis. 
  1. Sistematis adalah perubahan dalam perkembangan itu bersifat saling ketergantungan atau 
  2. saling mempengaruhi antara bagian – bagian organisme (fisik & psikis) dan merupakan  satu kesatuan yang harmonis. 
  3. Progesif : perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat, dan mendalam baik secara  kuantitatif (fisik) maupun kualitatif (psikis) 
  4. Berkesinambungan : perubahan pada bagian atau fungsi organisme berlangsung secara  beraturan. 
Ciri – ciri perkembangan secara umum yaitu : 
  1. Terjadinya perubahan dalam aspek fisik (perubahan berat badan dan organ – organ tubuh) dan aspek psikis (matangnya kemampuan berpikir, mengingat, dan berkreasi) 
  2. Terjadinya perubahan dalam proporsi; aspek fisik (proporsi tubuh anak beubah sesuai  dengan fase perkembangannya) dan aspek psikis (perubahan imajinasi dari fantasi ke realitas) 
  3. Lenyapnya tanda – tanda yang alam; tanda - tanda fisik (lenyapnya kelenjar thymus  (kelenjar anak – anak) seiring bertambahnya usia) aspek psikis (lenyapnya gerak – gerik  kanak – kanak dan perilaku impulsif). 
  4. Diperolehnya tanda – tanda yang baru; tanda – tanda fisik (pergantian gigi dan karakter  seks pada usia remaja) tanda – tanda psikis (berkembangnya rasa ingin tahu tentang  pengetahuan, moral, interaksi dengan lawan jenis) 
Prinsip-prinsip Perkembangan
1. Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti (never ending process)  artinya manusia secara terus menerus berkembang dipengaruhi oleh pengalaman atau  belajar. 
2. Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi artinya setiap aspek perkembangan 
individu baik fisik, emosi, intelegensi maupun sosial saling mempengaruhi jika salah satu  aspek tersebut tidak ada. 
3. Perkembangan itu mengikuti pola atau arah tertentu artinya perkembangan terjadi secara  teratur sehingga hasil perkembangan dari tahap sebelumnya yang merupakan prasyarat  bagi perkembangan selanjutnya. 
Arah atau pola perkembangan pola itu dikemukakan oleh Yelon dan Weinstein (1977) : 
  • Cephalocaudal & proximal – distal. Maksudnya, perkembangan manusia itu mulai dari  kepala ke kaki (cephalocaudal) dan dari tengah ; paru – paru, jantung, ke pinggir :  tangan (proximal – distal). 
  • Struktur mendahului fungsi arinya bahwa anggota tubuh individu akan dapat berfungsi  setelah matang strukturnya. 
  • Perkembangan itu berdiferensial maksudnya perkembangan itu berlangsung dari  umum ke khusus (spesiik) 
  • Perkembangan itu berlangsung dari konkret ke abstrak, maksudnya perkembangan itu  berproses dari suatu kemampuan berpikir yang konkret (objeknya tampak) menuju ke  abstrak (objeknya tidak tampak) 
  • Perkembangan itu berlangsung dari egosentrisme ke perspektifme, berarti bahwa  mulanya anak hanya melihat atau memperhatikan dirinya sendiri sebagaipusat, tapi  melalui pengalamannya dalam bergaul dengan temannya lambat laun sifat egosentris  itu berubah menjadi perspektivis (anak memiliki simpati terhadap kepentingan orang  lain) 
  • Perkembangan itu berlangsung dari “outer control to inner control”, maksudnya pada  awalnya anak sangat bergantung pada orang lain sehingga hidupnya didominasi oleh  pengontrolan dari luar seiring bertambahnya pengalaman dari lingkungan ia mampu  mengontrol dirinya sendiri.
4. Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan 
Perkembangan fisik dan menta mencapai kematangannya pada waktu dan tempo  yang berbeda (ada yang cepat dan ada yang lambat)
5. Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas 
Prinsip ini dijelaskan dengan contoh yaitu : 
  • Sampai usia dua tahun, anak memusatkan unuk mengenal lingkungannya. 
  • Pada usia tiga sampai enam tahun, perkembangan dipusatkan untuk menjadi manusia  sosial (belajar bergaul dengan orang lain) 
6. Setiap individu yang normal akan mengalami tahapan / fase perkembangan .Prinsip ini berarti bahwa dalam menjalani hidupnya yang normal dan berusia panjang  individu akan mengalami fase – fase perkembangan. 
7. Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti (never ending process)  artinya manusia secara terus menerus berkembang dipengaruhi oleh pengalaman atau  belajar. 
8. Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi artinya setiap aspek perkembangan  individu baik fisik, emosi, intelegensi maupun sosial saling mempengaruhi jika salah satu  aspek tersebut tidak ada.

1. Perkembangan Fisik Monotorik
Seiring dengan pertumbuhan fisik yang beranjak matang,maka perkembangan monotorik anak, perkembangan anak usia dasar ditandai dengan gerak atau aktifitas motorik yang lincah oleh karena itu usia ini merupakan massa yang ideal untuk belajat ketrampilan yang berkaitan dengan motoric baik halus maupun kasar
Contoh  perkembangan motorik anak
Motorik  Halus : Menggambar dan menulis
Motorik Kasar : Bela diri dan berenang

Perkembangan fisik yang normal merupakan salah satu faktor penentu kelancaran proses belajar baik dalam bidang pengetahuan maupun ketrampilan,oleh karena itu perkembangan motorik sangat menunjang keberhasilan peserta didik.  

2. Perkembangan intelektual
Intelektual menurut para ahli diantaranya menurut Wechler (1958) merumuskan intelektual sebagai "keseluruhan ke-mampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta kemampuan mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif. Intelektual bukanlah suatu yang bersifat kebendaan, melainkan suatu fiksi ilmiah untuk mendiskripsikan perilaku individu yang berkaitan dengan kemampuan intelektual.

Pada usia sekolah dasar anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemamapuan intelektual atau kemampuan kognitif. Menurut Piaget masa ini berada pada tahap operasi konkret yang ditandai dengan:
  • Kemampuan mengklasifikasikan benda-benda dengan ciri yang sama.
  • Menyusun atau mengasosiasikan angka-angka atau bilangan.
  • Memecahkan yang sederhana.
Kemampuan intelektual pada masa ini sudah cukup untuk menjadi dasar diberikanya berbagai kecakapan yng dapat mengembangkan pola piker atau daya nalarnya. Untuk mengembangkan daya nalarnya, daya cipta, kreatifitas anak maka anak perlu diberi peluang-peluang untuk bertanya berpendapat atau menilai tentang berbagai hal tentang pelajaran atau peristiwa yang terjadi di lingkungan.

3. Perkembangan Bahasa
Bahasa merupakan sarana berkomunikasi dengan orang lain, di mana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lisan, tulisan, atau isyarat. Melalui bahasa, setiap manusia dapat mengenal dirinya, sesamanya, alam sekitar, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai moral atau agama. Usia sekolah dasar merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata (vocabulary). Pada awal masa ini, anak sudah menguasai sekitar 2.500 kata, dan pada masa akhir (kira-kira usia 11-12) anak telah dapat menguasai sekitar 5.000 kata.

Di sekolah, perkembangan bahasa anak ini diperkuat dengan diberikannya mata pelajaran bahasa, baik bahasa indonesia, bahasa ibu, maupun bahsa inggris. Dengan diberikannya pelajaran bahasa di sekolah, para siswa diharapkan dapat menguasai dan menggunakannya sebagai alat untuk : (1) berkomunikasi secara baik dengan orang lain, (2) mengekspresikan pikiran, perasaan, sikap, atau pendapatnya, (3) memahami isi dari setiap bahan bacaan yang dibacanya.

4. Perkembangan Emosi
Pada usia sekolah, anak mulai menyadari bahwa pengungkapan emosi secara kasar tidaklah diterima. Oleh karena itu, dia mulai belajar untuk mengendalikan dan mengontrol emosinya. Kemampuan mengontrol emosi diperolehnya melalui peniruan dan latihan (pembiasaan). Dalam proses peniruan, kemampuan orang tua atau guru dalam mengendalikan emosinya sangatlah berpengaruh. Apabila anak dikembangkan dalam lingkungan keluarga yang emosionalnya stabil, maka perkembangan emosi anak juga akan cenderung stabil, namun apabila kebiasaan orang tua dalam mengekspresikan emosinya kurang stabil, maka perkembangan emosi anak juga cenderung kurang stabil. Oleh karena itu, seharusnya guru mempunyai kepedulian untuk menciptakan suasana proses belajar mengajar yang menyenangkan atau kondusif bagi terciptanya proses belajar siawa yang efektif. Upaya yang dapat ditempuh guru dalam menciptakan susana belajar mengajar yang kondusif itu adalah sebagai berikut:
  • Menciptakan susana kelas yang bebas dari ketegangan, seperti guru bersikap ramah, tidak judes, atau galak
  • Memperlakukan siswa sebagai indidu yang mempunyai harga diri
  • Memberikan nilai secara adil dan objektif
  • Menciptakan kondisi kelas yang tertib, bersih, dan sehat.
5. Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial adalah pencapaian kematangan kematangan dalam hubungan atau 
interaksi sosial. Perkembangan sosial juga bisa diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi, dan moral agama. Perkembangan sosial pada anak usia SD/MI ditandai dengan adanya perluasan hubungan, disamping dengan para anggota keluarga, juga dengan teman sebaya (peer group), sehingga ruang gerak hubungan sosialnya bertambah luas.

Pada usia ini, anak mulai memliki kesanggupan menyesuaikan diri dari sikap berpusat kepada diri sendiri (ogosentris) kepada sikap bekerja sama (kooperatif) atau sosiosentris (mau memperhatikan kepentingan orang lain. Anak mulai berminat terhadap kegiatan- kegiatan teman sebaya, dan bertambah kuat keinginannya untuk diterima menjadi anggota kelompok dan merasa tidak senang apabila tidak diterima oleh kelompoknya

Dalam proses belajar di sekolah, kematangan perkembangan sosial ini dapat dimanfaatkan atau dimaknai dengan memberikan tugas-tugas kelompok, baik yang membutuhkan tenaga fisik (seperti membersihkan kelas dan halaman sekolah_, maupun tugas yang membutuhkan pikiran. Tugas-tugas kelompok ini haruslah memberikan kesempatan kepada setiiap peserta didik atau siswa untuk menunjukkan prestasinya. Dengan bekerja kelompok, siswa dapat belajar tentang bagaimana cara ia bersosialisasi, bekerja sama, saling menghormati, bertenggang rasa dan bertanggung jawab.

6.Perkembangan Kesadaran Beragama
Pada masa ini kesadaran beragama anak ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
  • Sikap keagamaan anak masih bersifat reseptif namun sudah disertai dengan pengertian.
  • Penangan dan paham ketuhanan diperolehnya secara rasional berdasarkan kaidah-kaidah logika yang berpedoman kepada indikator-indikator alam semesta sebagai manifestasi dari keagungan-Nya.
  • Penghayatan secara rohaniyah semakin mendalam, pelaksanaan kegiatan ritual diterimanya sebagai keharusan moral.
  • Dalam mengenalkan Tuhan kepada anak, sebaiknya ditonjolkan sifat-sifat pengasih dan penyayangnya, bukan menonjolkan sifat-sifat Tuhan yanng menghukum, mengazab, atau memberikan siksaan dengan neraka.
Sampai kira-kira berusia 10 tahun, ingatan anak masih bersifat mekanis, sehingga kesadaran beragamanya hanyaa merupakan hasil sosialisasi orang-orang di sekitanya. Oleh karena itu, pengamalan ibadahnya masih bersifat peniruan, belum dilandasi kesadarannya. Pada usia 10 tahun ke atas, semakin bertambah kesadarannya akan fungsi agama baginya, yaitu sebagai penggerak moral dan sosial. Dia mulai mengerti bahwa agama bukan kepercayaan pribadi atau keluarga, melainkan kepercayaan masyarakat luas. Berdasarkan ini , maka shalat berjama’ah atau shalat Idul Fitri/Adha dan ibadah sosial lainnya sangat menarik baginya.

Periode sekolah dasar merupakan masa pembentukan nilai-nilai agama yang paling mendasar. Kualitas keagamaan anak di usia dewasa sangat dipengaruhi pula oleh proses pembentukan atau pendidikan yang diterimanya waktu kecil. Maka dari itu, pendidikan agama pada usia SD/MI sangatlah penting dan layak menjadi perhatian yang lebih oleh semua pihak.

Fase-fasePerkembangan
Fase perkembangan artinya penahapan atau pembabakan rentang perjalanan kehidupan  individu yang diwarnai ciri – ciri khusus atau pola- pola tingkah laku tertentu. Pendapat –  pendapat para ahli tentang pembabakan atau periodisasi perkembangan ini digolongkan menjadi  3, yaitu : 
a. Tahap perkembangan berdasarkan analisis biologis 
Pendapat para ahli tentang tahap tersebut : 
1. Aristoteles menggambarkan perkembangan individu, sejak anak – anak sampai  dewasa 
    menjadi 3 tahapan : 
  • Tahap I (0 – 7 tahun) : masa anak kecil atau bermain 
  • Tahap II (7 – 14 tahun) : masa anak, masa sekolah rendah 
  • Tahap III (14 – 21 tahun) : masa peralihan dari usia anak menjadi dewasa 
2. Kretscmer mengemukakan bahwa dari lahir sampai dewasa individu melewati 4  tahapan : 
  • Tahap I (0 – 3 tahun); Fullungs (pengisian) periode I, pada fase ini anak  kelihatan pendek gemuk.
  • Tahap II (3 – 7 tahun); periode I, anak kelihatan langsing (meninggi) 
  • Tahap III (7 – 13 tahun); Fullungs periode II, anak kelihatan pendek dan  gemuk kembali 
  • Tahap IV (13 – 20 tahun); Streckungs periode II, anak kembali kelihatan  langsing 
3. Elizabeth Hurlock : 
  • Tahap I : Fase Prenatal (sebelum lahir) 
  • Tahap II : Infancy (orok) 
  • Tahap III : Babyhood (bayi) 
  • Tahap IV : Childhood (kanak – kanak) 
  • Tahap V : Adolesence/puberty; a.) Pre Adolesence b.) Eary Adolesence c.) Late Adolesence 
b. Tahap perkembangan berdasarkan didaktis atau instruksional 
Menurut pendapat dari Comenius dan pendapat Rosseau penahapan ini  digolongkan sebagai berikut : 
1. Comenius. Dipandang dari segi pendidikan, pendidikan lengkap bagi seorag ibu  
    berlangsung dalam 4 jenjang yaitu : 
  • Sekolah ibu (scola maternal) anak – anak sampai 6 tahun 
  • Sekolah bahasa ibu (scola vernaculan) anak –anak 6 – 12 tahun 
  • Sekolah latin (scola latina) usia 12 – 8 tahun 
2. Rosseau. Penahapannya : 
  • Tahap I (0 – 2 tahun) : usia asuhan 
  • Tahap II (2 – 12 tahun) : masa pendidikan jasmani dan latihan panca indera 
  • Tahap III (12 – 15 tahun) : periode pendidikan akal
  • Tahap IV (15 – 20 tahun) : periode pendidikan watak dan pendidikan agama. 
  • Tahap perkembangan berdasarkan psikologis 
Tahap ini menggunakan aspek psikologis sebagai landasan dalam menganalisis  tahap perkembangan, mencari pengalaman individu yang digunakan sebagai masa  perpindahan dari fase yang satu ke fase yang lain dalam perkembangannya.  Berdasarkan masa dimana individu mengalami goncangan psikis, perkembangan  individu dapat digambarkan melewati tiga periode atau masa, yaitu dari sampai masa kegoncangan pertama (tahun ketiga atau keempat yang biasa disebut masa kanak –  kanak), masa goncangan pertama sampai pada masa kegoncangan kedua (masa  keserasian bersekolah), dari masa kegoncangan kedua sampai akhir masa remaja yang  biasa disebut masa kematangan.

c. Tahap perkembangan berdasarkan psikologis 
Tahap ini menggunakan aspek psikologis sebagai landasan dalam menganalisis  tahap perkembangan, mencari pengalaman individu yang digunakan sebagai masa  perpindahan dari fase yang satu ke fase yang lain dalam perkembangannya.  Berdasarkan masa dimana individu mengalami goncangan psikis, perkembangan  individu dapat digambarkan melewati tiga periode atau masa, yaitu dari sampai masa kegoncangan pertama (tahun ketiga atau keempat yang biasa disebut masa kanak –  kanak), masa goncangan pertama sampai pada masa kegoncangan kedua (masa  keserasian bersekolah), dari masa kegoncangan kedua sampai akhir masa remaja yang  biasa disebut masa kematangan. 

Dalam hubungan proses belajar mengajar pentahapan perkembangan yang digunakan  sebaiknya bersifat elektif (tidak terpaku pada satu pendapat saja). 
Fase – fase perkembangan individu : 
1. Masa usia pra sekolah (0 – 6 tahun) 
Masa ini terbagi 2 yaitu : masa vital masa dimana individu menggunakan fungsi –  fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya, dan masa estetik  (keindahan) adalah masa perkembangan rasa keindahan dimana dalam masa ini  perkembangan anak yang terutama adalah fungsi pancainderanya. 
2. Masa usia sekolah dasar (6 – 12 tahun) 
Masa ini disebut juga masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. Masa ini  diperinci menjadi 2 fase, yaitu : 
  • Masa kelas – kelas rendah sekolah dasar. Sifat – sifat yang umum pada masa ini biasanya anak tunduk pada peraturan –  peraturan tradisional, adanya kecenderungan memuji diri sendiri, suka membanding  – banding kan dirinya dengan anak yang lain. 
  • Masa kelas – kelas tinggi sekolah dasar  Sifat – sifat khas anak dalam masa ini antara lain : adanya minat terhadap  kehidupan praktis sehari – hari, amat realistik (ingin mengetahui dan belajar),  biasanya anak gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama – sama.  
Masa keserasian bersekolah diakhiri dengan masa yang disebut poeral. Sifat – sifat  khas anak pada masa poeral ini menurut para ahli yaitu : 
  • Ditujukan untuk berkuasa (sikap, tingkah laku, dan perbuatan) 
  • Ekstraversi (berorientasi keluar dirinya, misalnya mencari teman sebaya untuk  memenuhi kebutuhan fisiknya). 
  • Masa usia sekolah menengah (12 – 18 tahun) 
Masa ini dapat diperinci menjadi beberapa masa, yaitu : 
  • Masa praremaja (remaja awal), masa ini ditandai oleh sifat – sifat negatif pada si  remaja sehingga seringkali masa ini disebut masa negatif seperti tidak tenang,  kurang suka bekerja, pesimistik. 
  • Masa remaja (remaja madya), pada masa ini remaja mencari sesuatu yang  dipandang bernilai, pantas dijunjung tinggi dan dipuja – puja, dan ia  membutuhkan teman yang dapat memahami dan menolongnya saat suka maupun  duka. 
  • Masa remaja akhir, masa ini remaja dapat menentukan pendirian hidupnya. 
  • Masa usia mahasiswa (18 – 25 tahun)  Masa usia mahasiswa biasanya berusia 18 – 25 tahun, dan pada masa inilah  remaja memiliki pemantapan pendirian hidup. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar